Senin, 23 Mei 2011

Dimetrodon



Dimetrodon adalah sejenis synapsida ('mamalia mirip reptil'),  Ia merupakan genus yang berkuasa selama Periode Premian. Dimetrodon hidup antara 280-265 juta tahun lalu. Ia lebih berhubungan dekat dengan mamalia dibandingkan reptilia seperti kadal.



Dimetrodon juga bukan dinosaur, walaupun umumnya dikelompokkan dengan mereka. Sebaliknya, ia diklasifikasikan sebagaipelycosaur. Dimetrodon orang tua yang telah ditemukan di Amerika Utara dan Eropa, serta penemuan jejak kaki Dimetrodon yang signifikan di selatan New Mexico oleh Jerry Macdonald.


Dimetrodon adalah predator dominan, dan salah satu yang terbesar di zamannya. Ia dapat tumbuh sepanjang 3 meter (10 kaki. Nama Dimetrodon berarti 'dua ukuran gigi', dikarenakan ia memiliki tengkorak besar dengan dua jenis gigi yang berbeda, tidak seperti reptil. Dimetrodon berjalan dengan empat kaki di samping tubuhnya dan memiliki ekor berukuran besar, diduga Dimetrodon berjalan dengan cara yang sama seperti kadal modern.

Dimetrodon memiliki sirip yang penuh dengan pembuluh darah, mungkin saja digunakan untuk mengatur suhu tubuhnya. Permukaan kulitnya juga memudahkannya untuk menghangatkan atau menyejukkan tubuhnya lebih efisien. Adaptasi ini penting karena dapat menambah waktu berburunya. Sirip ini mungkin juga dipakai untuk menarik pasangan atau memperingatkan pemangsa lain. Sirip ini juga di topang oleh urat syaraf yang masing-masing tumbuh dari tulang belakangnya. Bramwell dan Fellgett (1973) memperhitungkan bahwa Dimetrodon seberat 200 kg dapat menigkatkan suhu tubuhnya dari 26 °C sampai 32 °C dalam 205 menit tanpa sirip dan hanya 80 menit dengan sirip.

Coelacanth

Coelacanth (artinya "duri yang berongga", dari perkataan Yunani coelia, "κοιλιά" (berongga) danacanthos, "άκανθος" (duri). Coelacanth adalah nama ordo (bangsa) ikan yang antara lain terdiri dari sebuah cabang evolusi tertua yang masih hidup dari ikan berahang. Coelacanth diperkirakan sudah punah sejak akhir masa Cretaceous 65 juta tahun yang lalu, sampai sebuah spesimen ditemukan di timur Afrika Selatan, di perairan sungai Chalumna tahun 1938. Sejak itu Coelacanth telah ditemukan di Komoro, perairan pulau Manado Tua di Sulawesi, Kenya, Tanzania, Mozambik, Madagaskar dan taman laut St. Lucia di Afrika Selatan. Di Indonesia, khususnya di sekitar Manado, Sulawesi Utara, spesies ini oleh masyarakat lokal dinamai ikan raja laut.


Sampai saat ini, telah ada 2 spesies hidup Coelacanth yang ditemukan yaitu Coelacanth Komoro, Latimeria chalumnae dan Coelacanth Sulawesi (manado), Latimeria menadoensis.
Hingga tahun 1938, ikan yang berkerabat dekat dengan ikan paru-paru ini dianggap telah punah semenjak akhir Zaman Cretaceous, sekitar 65 juta tahun yang silam. Sampai ketika seekor coelacanth hidup tertangkap oleh jaring hiu di muka kuala Sungai Chalumna, Afrika Selatan pada bulan Desember tahun tersebut. Kapten kapal pukat yang tertarik melihat ikan aneh tersebut, mengirimkannya ke museum di kota East London, yang ketika itu dipimpin oleh Nn. Marjorie Courtney-Latimer. Seorang iktiologis (ahli ikan) setempat, Dr. J.L.B. Smith kemudian mendeskripsi ikan tersebut dan menerbitkan artikelnya di jurnal Nature pada tahun 1939. Ia memberi nama Latimeria chalumnae kepada ikan jenis baru tersebut, untuk mengenang sang kurator museum dan lokasi penemuan ikan itu.
Pencarian lokasi tempat tinggal ikan purba itu selama belasan tahun berikutnya kemudian mendapatkan perairan Kepulauan Komoro di Samudera Hindia sebelah barat sebagai habitatnya, di mana beberapa ratus individu diperkirakan hidup pada kedalaman laut lebih dari 150 m. Di luar kepulauan itu, sampai tahun 1990an beberapa individu juga tertangkap di perairan Mozambique, Madagaskar, dan juga Afrika Selatan. Namun semuanya masih dianggap sebagai bagian dari populasi yang kurang lebih sama.
Pada tahun 1998, enam puluh tahun setelah ditemukannya fosil hidup coelacanth Komoro, seekor ikan raja laut tertangkap jaring nelayan di perairan Pulau Manado Tua, Sulawesi Utara. Ikan ini sudah dikenal lama oleh para nelayan setempat, namun belum diketahui keberadaannya di sana oleh dunia ilmu pengetahuan. Ikan raja laut secara fisik mirip coelacanth Komoro, dengan perbedaan pada warnanya. Yakni raja laut berwarna coklat, sementara coelacanth Komoro berwarna biru baja.

Minggu, 22 Mei 2011

Archaeopteryx



 Archaeopteryx adalah burung paling awal dan paling primitif yang diketahui. Nama ini berasal dari ρχαος Yunani Kuno (archaīos) yang berarti "kuno", dan πτέρυξ (ptéryx), yang berarti "bulu" atau "sayap".


Archaeopteryx hidup di Periode Jurassic Akhir sekitar 150 juta tahun yang lalu, dalam apa yang sekarang Jerman selatan selama waktu ketika Eropa adalah kepulauan pulau di laut yang dangkal tropis yang hangat, jauh lebih dekat dengan khatulistiwa daripada sekarang.

Serupa dalam bentuk ke Murai Eropa, dengan individu terbesar mungkin mencapai ukuran gagak, Archaeopteryx bisa tumbuh menjadi sekitar 0,5 meter (1,6 kaki). Meskipun ukurannya kecil, sayap yang luas, dan kemampuan untuk terbang atau meluncur, Archaeopteryx memiliki lebih banyak kesamaan dengan dinosaurus theropoda kecil daripada yang dilakukannya dengan burung modern. Rahang dengan gigi yang tajam, tiga jari dengan cakar, ekor kurus panjang, jari-jari kedua hyperextensible ("cakar pembunuh”), dan berbagai fitur kerangka. Hal di atas membuat Archaeopteryx calon yang jelas untuk sebuah fosil transisi antara dinosaurus dan burung. Dengan demikian, Archaeopteryx memainkan peranan penting tidak hanya dalam studi tentang asal-usul burung tetapi dalam studi dinosaurus. Itu adalah nama dari bulu pada tahun 1861. Pada tahun yang sama, spesimen lengkap pertama Archaeopteryx diumumkan, ini hanya dua tahun setelah Charles Darwin menerbitkan On the Origin of Species, dan itu menjadi bagian kunci bukti dalam perdebatan tentang evolusi. Selama bertahun-tahun, lebih dari sembilan fosil Archaeopteryx telah muncul. Meskipun variasi di antara fosil-fosil, sebagian besar para ahli menganggap semua tetap yang telah ditemukan sebagai milik satu spesies, meskipun ini masih diperdebatkan.

Sebagian besar fosil ,sebelas termasuk bentuk bulu antara bukti langsung tertua dari struktur tersebut. Selain itu, karena bulu-bulu ini dari bentuk lanjutan (bulu terbang), fosil adalah bukti bahwa evolusi bulu dimulai sebelum Jurassic Akhir.

Senin, 02 Mei 2011

Buta Warna



APAKAH BUTA WARNA ITU ?        

Buta warna dapat diartikan sebagai suatu kelainan penglihatan yang disebabkan olek ketidak mampuan sel-sel kerucut pada retina untuk menagkap suatu spectrum warna tertentu, sehingga warna objek yang terlihat bukanlah warna yang sesungguhnya.

APA PENYEBAB BUTA WARNA ?

Buta warna merupakan cacat bawaan yang diturunkan secara genetik oleh orang tua kepada anaknya. Buta warna dibawa oleh kromosom X pada perempuan, dan diturunkan  kepada anak-anaknya. Jadi apabila ada seseorang mengalami buta warna, maka mereka tidak mampu menghasilkan keseluruhan pigmen yang dibutuhkan mata agar dapat melihat dengan normal.

Penyebab buta warna adalah faktor keturunan. Lazimnya gangguan tersebut terjadi pada pada kedua mata, namun tidak memburuk seiring berjalannya usia.

           Kelainan gen terjadi pada kromosom X seseorang. Kromosom seorang wanita adalah XX. Jadi, dirinya baru bisa dipastikan merupakan penderita buta warna apabila kedua kromosomnya memiliki kelainan. Sedangkan pria kromosomnya XY, sehingga jika terjadi kelainan pada satu kromosomnya, yang ternyata adalah kromosom X, maka dirinya sudah pasti mengidap buta warna. Itulah sebabnya mengapa lebih banyak pengidap buta warna adalah pria ketimbang wanita .     

TES BUTA WARNA

Pertanyaan 1.
Berapa saja Angka-angka yang terdapat dalam kotak ini? (Sebutkan dari kiri ke kanan)


Pertanyaan 2.
Ada bangun apa saja di gambar ini ?
Pertanyaan 3.
Sebutkan bangun datar apa saja yang terdapat di gambar ini ?

Jawaban Pertanyaan 1 : 16, 57, 6, 29, 42, 7, 10, 2, 5.
Jawaban Pertanyaan 2 : Ada bangun
 Lingkaran dan  Kotak.
Jawaban Pertanyaan 3 : Lingkaran, Bintang dan Kotak

Jumat, 29 April 2011

El Dorado



El Dorado adalah sebuah legenda, legenda yang menyimpan misteri begitu besar. Banyak para pencari harta karun berupaya menemukan kota emas yang hilang tersebut. Upaya tersebut tidak membuahkan hasil yang memuaskan.

Kisahnya begitu penuh misteri. setelah Anda membaca artikel berikut ini, Anda sendirilah yang menyimpulkan, El Dorado itu fakta? atau hanya karangan belaka?

Kisah dimulai ketika para Konguistador (Para penakluk) menghancurkan dan merampas kebudayaan Aztecs dan Inca, suku pribumi menceritakan pada mereka suatu rumor yang mengejutkan. Mereka mengatakan bahwa ada suatu ras, jauh di dalam rimba, yang mempunyai raja berselimutkan debu emas dan berenang di dalam danau emas.

Salah satu dari orang Spanyol pertama yang berangkat untuk mencari negeri fantastis ini adalah Jimenez de Quesada. Pada tahun 1536, Quesada dan 500 serdadunya merintis jalan memasuki belukar dari barat laut dari tempat yang kini disebut Kolombia. Setelah bersusah payah menerobos rimba yang lebat dan berbahaya, mereka menemukan dua suku Chibchas, suatu bangsa yang sangat kaya. Mereka mempunyai emas, perak dan segudang jamrud, tetapi mereka tidak mempunyai 'El Dorado' yang dimitoskan.

Akan tetapi, mereka mengatakan kepada Quesada mengenai sebuah danau di tengah suatu kawah vulkanik yang sangat besar di atas dataran tinggi Bogota yang tidak jauh lagi. Penduduk pribumi menyingkapkan bahwa danau itu disebut Guatavita dan tiap tahun upacara yang ganjil dari Manusia Emas akan berlangsung.

Saksi anggota suku mengatakan kesempatan itu digunakan untuk menawarkan korban dan hadiah-hadiah kepada dewa yang mereka puja. Raja suku diolesi dengan lumpur yang lengket, di atas lumpur itulah debu emas ditaruh. Dia dan empat kepala suku lainnya kemudian berlayar di atas sebuah rakit bersama permata yang paling berharga, sementara anggota suku lainnya memainkan musik di pinggiran danau. Ketika sang raja dan rombongannya mencapai bagian tengah danau, mereka melemparkan persembahannya ke dalam air, lalu sang raja mandi untuk melepaskan penutup emasnya.

Quesada berangkat menuju danau itu, tetapi tidak dapat menemukan tanda yang menunjukan harta itu. Orang Spanyol lainnya mendengar rumor tentang danau Guatavita, dan berusaha dengan mengeruk danau itu pada tahun 1549.

Setelah tahun demi tahun berlalu, setiap ekspedisi baru mendengar versi-versi lain dari legenda El Dorado. Setiap Ekspedisi merangsak memasuki rimba yang dimana mereka yakin akan menemukan kekayaan. Tak seorang pun yang pernah mendapatkannya, tapi mereka menjumpai hal-hal menarik lainnya.

Pada tahun 1537, Francisco de Orellana, berusaha menemukan kota emas dengan berlayar ke sungai Napo. Orellana mencapai ujung sungai Napo, dan masuk ke sungai lainnya, ia menyadari bahwa sungai itu sebagai anak sungai lainnya yang lebih besar. Sewaktu dia terapung-apung di sepanjang sungai ini, para pemanah wanita yang sangat ganas dari suatu suku yang berambut panjang, menyerang sampannya. Wanita ini mengingatkan Orellano kepada orang-orang Amazon dari Scythia di dalam legenda Yunani, dan ia menamai sungai itu 'Amazonas'

Pada tahun 1584, muncul lagi rumor pribumi lainnya. Diduga bahwa orang-orang Inca yang melarikan diri dari para penyerbu Spanyol telah menciptakan suatu kota emas baru yang disebut Manoa. Hal ini menjadi tak terpisahkan dari legenda El Dorado, dan pada tahun 1595, petualang asal Inggris, Sir Walter Releigh berusaha menemukan Manoa dan emasnya untuk Ratu Elizabeth I. Dia gagal, dan ekspedisi tidak menghasilkan apa-apa, kemudian pada tahun 1617 hal ini menjadi salah satu penyebab hukuman mati baginya.

Selama bertahun-tahun, mitos lainnya masih beredar bahwa suatu danau mistis yang hilang disebut Parima. Danau itu dilukiskan hampir identik dengan penemuan awal Quesada, Danau Guatavita. Sementara itu, orang Spanyol lainnya telah memutuskan untuk melanjutkan usaha-usaha mencapai dasar danau Guatavita.

Pada tahun 1580-an, Antonio de Sepulveda, seorang saudagar yang tinggal di Bogota, menggunakan 8000 orang pria pribumi untuk mengeringkan danau itu dengan membuat potongan yang dalam di sisinya. Dia berhasil memindahkan banyak air, dan menemukan emas yang sangat banyak, tetapi dinding tanah runtuh, membunuh banyak pekerja dan akhirnya proyek itu ditinggalkan. Usaha-usaha selanjutnya untuk mengeringkan danau itu berlanjut hingga memasuki abad kedua puluh, dan banyak artefak yang bernilai secara historis ditemukan, tetapi tidak pernah ada harta dalam jumlah yang sangat besar, yang dijanjikan oleh legenda- legenda itu.

Rabu, 27 April 2011

Asal mula tusuk gigi



 Sebelum sikat gigi diciptakan, orang membersihkan giginya dengan kayu pembersih gigi yang keras maupun lembut. Tusuk gigi yang terbuat dari perunggu pernah ditemukan di antara barang-barang yang dikuburkan dalam makam-makam pra-sejarah di Italia Utara dan di Alpen Timur.

Tusuk gigi juga dikenal di Mesopotamia. Konon sang tiran Agatokles dibunuh pada 289 SM melalui racun yang bekerja lambat, yang ditaruh oleh seorang budaknya pada sebatang tususk gigi. Ada contoh-contoh tusuk gigi yang artistik dan halus dari bahan perak di zaman kuno, atau dari kayu mastis di kalangan bangsa Romawi.

Pada abad ke-17 tusuk gigi dianggap barang mewah yang setara dengan perhiasan permata. Mereka dibuat dari logam mulia dan dihiasi dengan batu-batu berharga. Negara bagian Maine di Amerika Serikat adalah produsen utama tusuk gigi. Kini, dengan kemajuan ilmu kedokteran gigi modern, penggunaan tusuk gigi agak ditolak, dan alat-alat bantu lainnya seperti benang gigi dan sikat gigi lebih disukai. tapi tetap saja tusuk gigi selalu disediakan karena kemudahan memakainya. Sampai sekarang belum ada seorangpun yang mengklaim sebagai penemu tusuk gigi.

Jumat, 15 April 2011

Sungai di Bawah Laut



Sungai bawah laut ini terdapat di Cenote Angelita, Meksiko. Di sana terdapat sebuah gua yang jika diselami sampai kedalaman 30 meter, airnya adalah  air tawar, namun jika menyelam sampai pada kedalaman lebih dari 60 meter, airnya berubah menjadi air asin. Di dasarnya terdapat sebuah “sungai” lengkap dengan pohon dan dedaunan. Namun, tentu saja itu bukanlah sungai biasa karena sungai tersebut merupakan lapisan hidrogen sulfida sehingga nampak seperti sungai.